Dalam dunia pertanian modern, keberhasilan panen padi tidak lagi hanya diukur dari kuantitas Gabah Kering Panen (GKP) yang dihasilkan. Penekanan kini beralih pada kualitas, dan dua indikator utama yang menentukan nilai jual serta kepuasan konsumen adalah mengukur kualitas padi dari rendemen dan teksturnya. Petani yang cerdas menyadari bahwa gabah yang memiliki rendemen tinggi dan menghasilkan beras dengan tekstur yang disukai pasar akan memberikan keuntungan maksimal. Oleh karena itu, memahami kedua faktor ini menjadi kunci untuk mencapai standar mutu beras yang lebih tinggi.
Rendemen, atau sering disebut milling recovery, adalah persentase beras giling yang dihasilkan dari sejumlah gabah. Semakin tinggi rendemennya, semakin sedikit gabah yang terbuang saat proses penggilingan, yang berarti efisiensi produksi yang lebih baik. Ada dua jenis rendemen yang diukur: rendemen beras pecah kulit dan rendemen beras giling (beras utuh dan pecah). Standar rendemen beras giling yang ideal di Indonesia sering ditetapkan di atas 65%. Misalnya, pada tanggal 15 Mei 2024, hasil audit oleh tim penguji mutu Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) di Sukamandi mencatat bahwa kelompok tani “Subur Makmur” berhasil mencapai rendemen rata-rata 68% untuk varietas Inpari 32, melebihi standar nasional. Untuk meningkatkan rendemen, petani harus memastikan kualitas gabah saat dipanen (tidak terlalu muda atau terlalu tua), serta menjaga kadar air Gabah Kering Giling (GKG) berada di kisaran 13% hingga 14% sebelum digiling.
Sementara rendemen berkaitan dengan kuantitas beras yang dapat diekstrak, tekstur berhubungan langsung dengan kualitas rasa dan preferensi konsumen. Tekstur beras, apakah pulen, pera, atau sedang, ditentukan oleh kandungan zat pati utama di dalamnya, yaitu amilosa dan amilopektin. Beras dengan kandungan amilosa rendah (sekitar 10%-20%) cenderung menghasilkan tekstur yang pulen (lembek dan lengket setelah dimasak), seperti beras Jepang atau beberapa varietas lokal populer. Sebaliknya, beras dengan amilosa tinggi (di atas 25%) akan menghasilkan tekstur pera atau keras.
Pengujian tekstur ini biasanya dilakukan di laboratorium pengujian mutu. Pada hari Rabu, 17 Juli 2024, di Laboratorium Mutu Beras Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, sampel beras Ciherang yang diuji menunjukkan kadar amilosa 23%, yang dikategorikan sebagai tekstur sedang hingga agak pera—sangat cocok untuk nasi goreng. Pengecekan dan pengkategorian seperti ini sangat penting agar pedagang dapat mengukur kualitas padi dari rendemen dan teksturnya sebelum dipasarkan ke segmen konsumen yang tepat.
Faktor yang memengaruhi tekstur dan juga rendemen tidak hanya varietas, tetapi juga praktik budidaya. Penggunaan pupuk, terutama kalium dan silika, yang seimbang dapat membantu memperkuat bulir padi, mengurangi persentase butir pecah saat penggilingan (meningkatkan rendemen), dan meningkatkan mutu beras. Laporan dari petugas penyuluh pertanian pada akhir musim tanam April 2024 di wilayah Banten menunjukkan bahwa petani yang menerapkan pemupukan berimbang dengan tambahan silika menunjukkan penurunan butir pecah hingga 3% dibandingkan kelompok kontrol. Dengan demikian, fokus mengukur kualitas padi dari rendemen dan teksturnya ini mendorong petani untuk beralih dari sekadar mengejar volume panen menjadi mengejar nilai jual yang lebih tinggi dan berkelanjutan.