Sorgum, Masa Depan Pangan Nusantara: Mengapa Biji-bijian Lokal Ini Lebih Tahan Krisis Iklim?

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, Indonesia dituntut untuk mencari alternatif sumber karbohidrat yang lebih resilien dan berkelanjutan. Sagu dan singkong memang telah lama dikenal, namun ada satu biji-bijian yang kini kembali mendapat sorotan sebagai Pangan Nusantara masa depan: sorgum (Sorghum bicolor). Tanaman serbaguna ini menawarkan solusi adaptif terhadap kekeringan dan minimnya unsur hara tanah, menjadikannya pilihan strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Kemampuan adaptasi sorgum yang luar biasa ini membuatnya jauh lebih unggul dibandingkan komoditas utama lain yang sangat bergantung pada curah hujan yang teratur.

Keunggulan utama sorgum terletak pada toleransinya yang tinggi terhadap kekeringan. Sorgum memiliki sistem perakaran yang dalam dan efisien, memungkinkannya menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam, bahkan di kondisi yang membuat tanaman padi atau jagung kesulitan. Sebuah studi ketahanan pangan yang dilakukan oleh ‘Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)’ pada Selasa, 18 Juni 2024, di lahan kering Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, menunjukkan bahwa sorgum dapat menghasilkan panen yang layak dengan curah hujan rata-rata hanya 300 mm per musim, jauh di bawah kebutuhan padi yang bisa mencapai 1.200 mm. Kapabilitas inilah yang menjadikan sorgum sebagai Pangan Nusantara yang ideal untuk diversifikasi di wilayah-wilayah yang rentan terhadap dampak El Nino.

Selain tahan kekeringan, sorgum juga unggul dari sisi nutrisi. Biji-bijian ini bebas gluten, menjadikannya alternatif yang sangat baik bagi penderita celiac atau mereka yang menjalani diet bebas gluten. Sorgum juga kaya akan serat, protein, dan berbagai mineral penting. Komposisi nutrisi yang menguntungkan ini bukan hanya penting untuk kesehatan, tetapi juga mendukung program pemerintah untuk Pangan Nusantara yang lebih beragam dan bergizi. Data dari ‘Pusat Data dan Informasi Kesehatan’ pada akhir tahun 2023 mencatat adanya peningkatan minat publik terhadap biji-bijian whole grain, dan sorgum memenuhi kriteria tersebut dengan sempurna.

Untuk mendorong budidaya sorgum, pemerintah dan lembaga swasta kini gencar melakukan pendampingan dan penyediaan benih unggul. Misalnya, di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang sering mengalami defisit air, program pendampingan intensif dari ‘Dinas Pertanian Provinsi’ yang dilaksanakan setiap hari Rabu telah membantu ratusan petani meningkatkan produktivitas sorgum mereka. Mereka tidak hanya belajar teknik penanaman yang tepat, tetapi juga cara pengolahan pasca panen menjadi produk turunan seperti tepung dan gula cair. Dengan dukungan regulasi dan edukasi yang terstruktur, sorgum berpotensi kuat untuk tidak hanya menjadi alternatif Pangan Nusantara, tetapi juga menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan di masa depan.